BANJAR MASIN-Masjid At-Taqwa Kalirejo, Lampung Tengah, berhasil dinobatkan sebagai Juara 3 Masjid Unggulan Muhammadiyah se-Indonesia pada ajang Cabang Ranting dan Masjid Award (CRM) 2025. Masjid ini terpilih dari 15 masjid terbaik yang masuk nominasi nasional pada gelaran LPCR PP Muhammadiyah yang berlangsung di Banjarmasin, 13–16 November 2025.
Ketua LPCR PWM Lampung, Syamsudin, S.Ag., menerangkan bahwa prestasi Masjid At-Taqwa bukan sekadar hasil persiapan kompetisi, melainkan buah dari tradisi keorganisasian yang telah dibangun bertahun-tahun.
“Pengurus masjid telah menyiapkan masjid sebagai tempat ibadah yang nyaman, sejuk, bersih, dan memenuhi kebutuhan jamaah. Masjid menjadi makmur bukan hanya karena jamaahnya banyak, tetapi karena sarana, fasilitas, dan program yang berjalan maksimal,” ujarnya.
Syamsudin memaparkan keunggulan Masjid At-Taqwa, yang dikenal dengan berbagai program pelayanan dan sosial yang berdampak luas bagi jamaah dan masyarakat sekitar, di antaranya:
- Pelayanan jenazah lengkap (memandikan, mengafani hingga memakamkan) secara gratis bagi warga yang membutuhkan.
- Program Jumat Berkah, berupa pembagian sayuran dan makan siang gratis.
- Sarapan gratis setiap Ahad setelah kajian.
- Kopi gratis 24 jam untuk jamaah.
- Kegiatan seni dan aktivitas sosial yang terbuka bagi masyarakat.
- Program bantuan beras, yang rutin menyalurkan 500 kg hingga 1 ton per bulan secara cuma-cuma kepada warga sekitar.
“Program-program ini menunjukkan bahwa masjid Muhammadiyah bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat layanan sosial dan pemberdayaan umat,” jelasnya.
Lebih jauh Syamsudin, bersama seluruh tim LPCR PWM Lampung berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi cabang dan ranting lainnya.
“Kami ingin menghadirkan masjid-masjid makmur seperti Masjid At-Taqwa Kalirejo di setiap cabang Muhammadiyah di Lampung,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa masjid, ranting, dan cabang adalah ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Karena itu, pembinaan berkelanjutan harus terus diperkuat agar menjadi kekuatan nyata gerakan persyarikatan.
“Kami akan melanjutkan pendampingan yang terkoneksi antara pimpinan wilayah, pimpinan daerah, dan LPCR daerah. Ini pekerjaan besar, tidak banyak diminati, dan berbeda dengan pengelolaan amal usaha. Namun menurut kami, inilah fondasi dakwah Muhammadiyah yang paling mendasar,” pungkasnya. (ims)

