Kamis, Septermber 04, 2025 Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan luar biasa untuk mengikuti Indonesian Korean Teacher Exchange (IKTE) 2025. Program ini bukan sekadar perjalanan internasional, tetapi wadah belajar, bertukar pengalaman, dan memperluas wawasan bagi guru-guru Indonesia, khususnya yang tergabung dalam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pendidikan.
Berangkat dari semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Metro, keikutsertaan dalam program ini menjadi amanah besar. Saya tidak hanya belajar tentang sistem pendidikan Korea Selatan, tetapi juga mengamati bagaimana mereka membangun mental dan mindset pendidik agar menjadi profesional yang adaptif, inovatif, dan memiliki perspektif global.
Hari pertama saya di Korea menjadi pengalaman yang membuka mata. Saya mengunjungi beberapa sekolah dan menyaksikan bagaimana guru-guru setempat benar-benar terlibat dalam kehidupan sehari-hari siswa. Mereka tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga turun ke jalan untuk mengawal siswa dari perempatan hingga gerbang sekolah. Beberapa guru bahkan membantu memastikan siswa menyeberang dengan aman, menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap keselamatan dan kesejahteraan murid.
Ada momen yang membuat saya tersenyum sekaligus kagum: salah satu guru menepuk punggung siswa yang terlihat grogi di pagi hari, sambil memberi semangat ringan—“Semangat! Hari ini kamu bisa!”—sebuah gesture sederhana yang menurut saya penuh makna. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menjadi pendidik tidak cukup dengan menyampaikan materi; seorang guru juga harus menumbuhkan kepedulian nyata terhadap kehidupan siswa. Mental dan mindset guru di Korea memperlihatkan bahwa tanggung jawab pendidik melampaui ruang kelas. Bagi guru-guru Muhammadiyah, ini menjadi inspirasi penting: mendidik dengan hati, sambil menegakkan disiplin dan nilai-nilai karakter.
Salah satu rangkaian kegiatan penting adalah welcoming ceremony dan Local Adjustment Training (LAT) yang berlangsung selama 4 hari di APCEIU, Seoul. Kegiatan LAT dirancang untuk membantu peserta memahami kultur lokal, sistem pendidikan Korea, serta cara berinteraksi dengan guru dan siswa di lingkungan baru.
Di sini, saya bertemu dengan guru-guru dari berbagai negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan banyak peserta dari Asia lainnya. Sesi diskusi dan simulasi kelas di LAT memberikan pengalaman langsung tentang adaptasi budaya dan pendekatan pengajaran yang berbeda. Kami berbagi cerita, membandingkan sistem pendidikan masing-masing negara, dan mendiskusikan tantangan serta solusi dalam membangun kualitas pendidikan.
Kegiatan LAT ini tidak hanya memperluas wawasan lokal, tetapi juga menjadi fondasi awal untuk membangun Global Citizenship Education (GCED). Kami belajar bahwa menjadi guru berwawasan global berarti mampu menghargai perbedaan, bekerja sama lintas budaya, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan sehari-hari.
Selama beberapa hari di Korea, saya juga melakukan observasi kelas dan mengikuti diskusi interaktif dengan guru-guru lokal. Beberapa hal penting yang saya catat antara lain:
- Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran
Setiap kelas menggunakan perangkat digital, mulai dari kuis interaktif hingga materi visualisasi yang mempermudah siswa memahami konsep. Saya mencoba salah satu aplikasi kuis interaktif, dan ternyata siswa sangat antusias—setiap jawaban mereka langsung terekam, dan guru dapat memonitor pemahaman siswa secara real-time. Ini menegaskan bahwa teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Bagi AUM Muhammadiyah, penerapan teknologi digital dapat menjadi kunci untuk meningkatkan mutu pendidikan dan daya saing siswa.
- Kolaborasi Guru dan Komunitas Belajar
Para guru Korea secara rutin bertemu dalam komunitas belajar untuk mendiskusikan metode mengajar, tantangan siswa, dan inovasi yang sedang dijalankan. Mereka membagikan pengalaman, mencoba ide baru, dan mendukung satu sama lain. Saya belajar bahwa membangun jejaring antarpendidik dapat memperkuat mental guru, mendorong kreativitas, dan menciptakan suasana kerja yang lebih positif. Sekolah Muhammadiyah di Metro bisa meniru model ini dengan membangun forum kolaboratif antar-guru untuk berbagi ide dan praktik terbaik.

- Integrasi Nilai dan Karakter
Meski serba modern, sekolah-sekolah di Korea tetap menekankan disiplin, etika, dan penghargaan terhadap budaya. Guru-guru menekankan bahwa teknologi dan inovasi tidak boleh mengikis nilai moral, karakter, dan identitas budaya. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita: menjadi guru berwawasan global tidak berarti meninggalkan nilai lokal atau agama.
Puncak kegiatan adalah International Conference yang dihadiri 19 negara. Konferensi ini menjadi platform untuk mendiskusikan Global Citizenship Education (GCED) secara lebih luas. Saya bertemu guru dari Malaysia, Thailand, Jepang, Singapura, Filipina, dan banyak negara lain.
Diskusi di konferens: kami membicarakan perbedaan pendidikan, inovasi pengajaran, isu keberlanjutan, dan bagaimana menanamkan nilai global pada siswa. Saya belajar banyak tentang pendekatan proyek lintas negara, metode kolaboratif, dan pentingnya memahami konteks budaya siswa.
Ada momen yang sangat berkesan: saat sesi interaktif, saya duduk bersama guru dari Thailand dan Malaysia, dan kami diminta membandingkan pengalaman mengajar serta menyusun mini-proyek GCED digital. Hasilnya tidak sempurna—ada salah klik, tawa, dan kebingungan—tapi itu justru menjadi pengalaman belajar lintas budaya yang menyenangkan dan mendalam.
Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa mental dan mindset guru harus terbuka, adaptif, dan berani bereksperimen. Guru yang berwawasan global tidak hanya mengajarkan materi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab global.
Dari berbagai pengalaman ini, saya merangkum beberapa pelajaran penting:
Mental Pendidik yang Kuat
Guru harus siap menghadapi perubahan, terbuka terhadap inovasi, dan mampu menjadi teladan bagi siswa dalam hal disiplin, ketekunan, dan kepedulian sosial.
Mindset Global
Pendidikan bukan hanya untuk lokal, tetapi juga menyiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin terbuka dan kompetitif. Guru perlu memiliki perspektif internasional tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Kolaborasi dan Berbagi Ilmu
Guru yang membangun jejaring akan lebih cepat berkembang. Semakin banyak kita berbagi ide dan pengalaman, semakin cepat inovasi tercipta.
Pengalaman Praktis: Integrasi Teknologi dan Kreativitas
Selama di Korea, saya mencoba langsung beberapa teknologi pendidikan, seperti aplikasi pembelajaran interaktif, papan digital, dan metode pengajaran berbasis proyek. Pengalaman ini menunjukkan bahwa guru kini berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk belajar mandiri dan kreatif.
Bagi sekolah Muhammadiyah, hal ini menjadi panggilan untuk segera mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, membuka peluang inovasi, dan meningkatkan kreativitas siswa.
Pengalaman di Korea menegaskan bahwa guru dengan mental dan mindset kuat akan mampu mencetak generasi unggul. Beberapa pesan motivasi yang saya dapatkan antara lain:
Berani Berinovasi: Jangan takut mencoba hal baru dalam pembelajaran. Inovasi adalah kunci relevansi pendidikan di era digital.
Tetap Berakar pada Nilai: Teknologi dan metode modern harus berjalan beriringan dengan nilai keislaman dan karakter siswa.
Jadilah Teladan: Siswa belajar dari contoh nyata. Guru yang disiplin, peduli, dan bersemangat akan menularkan kualitas yang sama.
Bangun Jejaring Global: Kesempatan belajar internasional harus dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, membangun relasi, dan mengembangkan perspektif pendidikan yang lebih luas.
Melalui IKTE, LAT, dan International GCED Conference, atau berbagai kegiatan positif yang saya ikuti ini, saya dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Muhammadiyah di Kota Metro memiliki potensi besar untuk maju. Dengan menguatkan mental guru, membangun mindset berwawasan global, dan memanfaatkan teknologi secara efektif, sekolah Muhammadiyah dapat menjadi pionir pendidikan berkemajuan.
Harapan saya: guru-guru Muhammadiyah mampu memimpin inovasi di kelas, membimbing siswa dengan teladan, serta memperluas kolaborasi antarpendidik. Jika langkah-langkah ini dijalankan, insyaAllah, AUM Muhammadiyah di Kota Metro akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga kuat karakter dan siap menghadapi tantangan global.
Mari bersama-sama mewujudkan visi pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan di Kota Metro: guru profesional, siswa kreatif dan berkarakter, serta sekolah yang mampu bersaing di kancah internasional. Pendidikan sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi peradaban, dan kita—guru-guru Muhammadiyah—adalah agen perubahan yang memiliki peran besar di dalamnya.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa untuk menjadi guru berwawasan global, kita perlu:
- Memiliki mental kuat untuk menghadapi tantangan dan perubahan.
- Membangun mindset terbuka untuk belajar dari inovasi global.
- Menjadi teladan nyata bagi siswa.
- Membuka jejaring dan kolaborasi antarpendidik, baik lokal maupun internasional.
Jika semua ini dijalankan dengan konsisten, insyaAllah, pendidikan Muhammadiyah di Kota Metro tidak hanya akan berkembang secara akademik, tetapi juga mencetak generasi yang peduli, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global. (Red: Ady, Gyongju-si South Korea)

