Ada sebuah pertanyaan ” Mengapa kita bermuhammadiyah?
Pasti setiap orang memiliki presepsi masing-masing, mengapa mereka bermuhammadiyah. Akan tetapi saya pada kesempatan ini akan menggunakan konsep yang sering digunakan oleh Ary Ginanjar, Founder ESQ 165 dalam menjelaskan sebuah alasan. Walau teori ini tidak mutlak berasal dari beliau akan tetapi para motivator banyak yang menggunakan ini dengan basis pendekatan oleh Simon sinek.
Hal ini sangat penting untuk dipahami oleh kita yang berkecimpung dalam sebuah organisasi, jangan sampai kita salah orientasi, sehingga yang didapat bukan kebahagiaan apalagi keberkahan, yang kita dapatkan adalah kekecewaan dan ketidak berkahan. Seperti sebuah perjalanan salah tujuan, sehingga hanya menggerutu dan berdebat dengan kawanya.
Jika kita menganalogikan muhammadiyah sebagai sebuah kendaraan maka semua penumpang harus jelas kemana tujuanya, karena kendaraan ini sudah jelas rutenya, hanya membutuhkan penumpang yang satu rute, agar sampai pada tujuannya dengan tepat.
Muhammadiyah sejak awal berdiri memiliki maksud dan tujuan mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya, bukan masyarakat muhammadiyah yang sebenar-benarnya. Akan tetapi dalam faktanya banyak yang belum memahami hal ini, sehingga mereka belum berfokus membangun kebanggaan kepada Islam. Inilah disorientasi atau mis-why warga Muhammadiyah.
Dalam tulisan ini saya ingin mencoba membangun why dalam bermuhammadiyah:
Yang pertama Strong why ini adalah Alasan kuat dan personal. Biasanya terkait dengan kebutuhan mendesak, tekanan hidup, atau tanggung jawab langsung. Biasanya alasan ini bagi mereka yang bermuhammadiyah dengan alasan yang bersifat materi, mencari pekerjaan, memenuhi kebutuhan hidup, dan lebih bersifat individual.
Alasan ini adalah alasan paling rendah dalam sebuah tujuan, apalagi bermuhammadiyah. Dengan alasan ini akan mengakibatkan mereka merasa capek, berat dan penuh dengan tuntutan. Jika alasan mereka belum terpenuhi, maka mereka akan kecewa bahkan bisa jadi putus asa dan tidak suka dengan muhammadiyah.
Yang kedua, Grand Why ini adalah Alasan yang lebih besar dari diri sendiri. Biasanya berhubungan dengan kontribusi sosial, misi hidup. Misal: ingin membantu sesama, membangun pesantren, mencerdaskan bangsa. Alasan ini lebih tinggi dibandingkan dengan strong why. Mereka adalah para aktivis yang sangat agresif mengembangkan muhammadiyah, memiliki peran besar dalam persyarikatan, bahkan memiliki prestasi publik yang luar biasa. Akan tetapi jika orientasi ini sampai disini saja, mereka akan mengalami kondisi kelelahan jika suatu saat mereka merasa bekerja sendiri apalagi ketika mereka sudah pensiun, maka mereka merasa sendirian, yang sebelumnya mereka adalah orang yang sangat dihormati secara sosial.
Yang ketiga, Great Why ini adalah Gabungan antara spiritual, eksistensial, dan pengabdian tinggi. Biasanya menyentuh dimensi transenden: ibadah, pengabdian kepada Allah, tujuan akhirat. Pada fase ini kita hanya ingin mengabdi kepada Allah SWT, ingin menghadirkan kebanggaan kepada Islam, agar umat islam cinta dengan Tuhanya, Rasulnya dan agamanya.
Alasan ketiga inilah yang akan mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah, karena semua warga Muhammadiyah hadir untuk membuat orang lain bangga dan cinta pada Islam.
Mungkin ada yang bertanya ” lalu siapa yang akan bangga dengan Muhammadiyah???
Jika warga Muhammadiyah menjadi agen kebanggaan kepada agama Islam, dan agen cinta pada IsIam. Maka mereka akan mencintai Islam dengan tulus, dan mereka secara otomatis akan bangga dan mengakui Muhammadiyah.
Jika kita masih sering kecewa ketika mereka belum bermuhammadiyah, maka kita masih dialasan kedua, masih ingin membangun identitas sosial, bukan identitas islam. Sebagaimana pesan Kh. Ahmad Dahlan Jangan menjadikan organisasi atau dakwah sebagai tempat mencari keuntungan pribadi. Jadikanlah dakwah sebagai ladang pengabdian tulus demi Islam.
Sehingga dalam mewujudkan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, maka perlu dibangun dari alasan ketiga dahulu yang paling utama, membangun ketulusan, orientasi yang benar, dibalut dengan nilai spiritual yang dalam. Aktivitas gerakan yang bersifat sosial atau bahkan individual di Muhammadiyah tanpa great why akan membuat kita terjebak dan mengalami jebakan batman. Bukannya kita bahagia malah menderita di Muhammadiyah, karena selalu suudzon dengan orang lain, merasa bekerja sendiri dan berjasa.
Sudah saatnya kita belajar menata ulang alasan kita dari great why, baru menuju Grand why dan akhirnya mendapatkan strong why. Dari spiritual, sosial dan material, bukan di balik dari material, sosial dan spiritual.

