METRO – Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah (LPPA) Kota Metro mulai menggerakkan program Sekolah Keluarga Literat (SKL) dengan melibatkan kader-kader Aisyiyah Daerah, cabang dan ranting se-Kota Metro. Kegiatan perdana berlangsung di SMK Muhammadiyah 1 Metro, Ahad (13/9/2026), dengan jumlah peserta mencapai 40 orang. Jumlah tersebut melampaui target awal program yang ditetapkan sebanyak 25 peserta.
Ketua LPPA Aisyiyah Kota Metro, Tri Hanifah, M.Pd. dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya menjadikan literasi sebagai gerakan bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat. “Budaya baca tidak cukup dibangun hanya melalui sekolah atau perpustakaan. Keluarga harus menjadi ruang pertama tempat anak mengenal buku, membaca, berdiskusi, dan belajar,” demikian pesan yang disampaikan dalam pembukaan.
Menurutnya, program ini melibatkan sejumlah fasilitator dari berbagai komunitas dan organisasi literasi. “Fasilitator program berasal dari berbagai unsur, antara lain Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Metro, Relima Perpusnas RI Kota Metro dan Lampung Timur, LPPA Aisyiyah Kota Metro, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Lampung, Kampung Dongeng Kota Metro, dan Tim Read Aloud Kota Metro,” imbuhnya.
Pertemuan perdana mengangkat materi “Keluarga sebagai Pondasi Budaya Baca” yang disampaikan oleh Agus Riyanto, M.Pd.I, Relawan Literasi Masyarakat Perpusnas RI Kota Metro. Materi tersebut menjadi bagian pertama dari enam rangkaian pertemuan SKL.

Kabid Dispusarda, Eka Safriyanto, M.Pd. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi ini melibatkan semua unsur terkait dalam pelaksanannya. “Pada pertemuan selanjutnya, peserta akan mendapatkan materi mengenai mekanisme pendirian taman baca dan pendaftaran Nomor Pokok Perpustakaan (NPP), mendongeng cerita anak, read aloud atau membaca nyaring, menulis cerita berbasis bahan bacaan, serta strategi cerdas mengulas buku.”
Menurut Agus Riyanto, M. Pd.I Program SKL ini tidak diarahkan berhenti pada pelatihan. Peserta diproyeksikan menjadi penggerak literasi di lingkungan masing-masing. “Salah satu target program adalah terbentuknya komunitas penggerak SKL serta berdirinya pojok baca atau taman baca di lingkungan komunitas,” papar Agus.
“Bahkan, program ini membuka peluang bagi alumni untuk merintis Taman Baca Aisyiyah ber-Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) di rumah-rumah alumni SKL. Dengan demikian, gerakan literasi diharapkan tidak berhenti di tempat kegiatan, tetapi berlanjut di rumah dan lingkungan masyarakat,” imbuh Agus.
Melalui Sekolah Keluarga Literat, Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Metro, Dra. Tugirah, M. Pd. mendorong agar keluarga tidak hanya menjadi sasaran gerakan literasi, tetapi menjadi pelaku sekaligus penggerak budaya baca di masyarakat. “Harapannya dari lulusan SKL ini, akan terbit buku-buku karya penggerak yang akan mengisi perpustakaan-perpustakaan di Kota Metro,” ujar Tugirah. (s-h)

