SLEMAN, YOGYAKARTA — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Metro Barat, Kota Metro, Lampung, melaksanakan kunjungan study tiru ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (4/9/2026).
Kunjungan didampingi Ketua PDM Kota Metro dan Ketua LPCRPM PDM Kota Metro. Rombongan disambut oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Ketua PCM Minggir Ngadimin beserta jajaran pimpinan, serta Pimpinan Ranting Muhammadiyah se-PCM Minggir.
Dalam sambutan, sekaligus pemaparannya jajaran PCM Minggir menyampaikan berbagai pengalaman dalam mengembangkan Muhammadiyah di wilayah Minggir yang memiliki tantangan tersendiri. “PCM Minggir berada di lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Katolik, sementara warga Muhammadiyah hanya sekitar 10 persen dari keseluruhan masyarakat.” Ungkap ketua PCM.
Namun, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi Muhammadiyah untuk terus bergerak. Justru dengan pendekatan sosial, keagamaan, ekonomi, dan pendidikan, PCM Minggir mampu membangun kepercayaan masyarakat serta menghadirkan kebermanfaatan Muhammadiyah bagi seluruh warga.
Salah satu keunggulan PCM Minggir adalah gerakan sosial melalui LAZISMU. Saat ini LAZISMU PCM Minggir memiliki dua unit ambulans yang penggunaannya diperuntukkan bagi seluruh warga masyarakat tanpa membedakan latar belakang organisasi maupun agama.
“Keberadaan ambulans tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dakwah bil hal Muhammadiyah. Pelayanan sosial diberikan sebagai wujud kepedulian dan komitmen Muhammadiyah untuk hadir di tengah masyarakat.” Terangnya.
Di bidang ekonomi, PCM Minggir juga memiliki berbagai amal usaha dan gerakan ekonomi yang menarik untuk dipelajari. Di antaranya adalah JATAM (Jamaah Tani Muhammadiyah) yang menjadi wadah penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian. Selain itu, terdapat Surya Ngloji Mart, RM Minang Ngloji Mart, serta usaha produksi Roti Mentari.
Berbagai unit ekonomi tersebut menunjukkan bagaimana Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga berupaya membangun kemandirian ekonomi jamaah dan masyarakat.

Lebih jauh dijelaskan bahwa hal menarik lainnya yang dimiliki PCM Minggir adalah Museum Mualaf. Museum ini menjadi ruang untuk mendokumentasikan perjalanan dan proses para mualaf, sekaligus menjadi bagian dari pembinaan serta penguatan kehidupan keagamaan mereka setelah memeluk Islam.
“Keberadaan Museum Mualaf menjadi bukti bahwa gerakan dakwah tidak berhenti pada proses seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan, pembinaan, dan penguatan kehidupan keislaman.” Terangnya.
PCM Minggir juga memiliki jargon yang cukup unik dan mencerminkan karakter gerakannya, yakni “Njawil, Njundil.” Jargon tersebut menjadi semangat dalam membangun gerakan agar Muhammadiyah tetap dekat dengan masyarakat, aktif bergerak, serta mampu memberikan dampak nyata.
Sementara dalam menjalankan aktivitas organisasi, PCM Minggir memiliki jargon yang sederhana namun penuh makna: “Semangat, Mangkat, Rapat.” Jargon tersebut menggambarkan budaya organisasi yang mendorong setiap kader untuk memiliki semangat, segera bergerak, kemudian membangun koordinasi melalui rapat untuk memastikan program dapat berjalan dengan baik.
Kunjungan study tiru ini memberikan banyak pelajaran bagi PCM Metro Barat dan PRM se-Metro Barat. Pengalaman PCM Minggir menunjukkan bahwa keterbatasan jumlah warga Muhammadiyah bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Sebaliknya, Muhammadiyah dapat tumbuh dan diterima masyarakat ketika mampu menghadirkan manfaat melalui berbagai bidang kehidupan.
Ketua PCM Metro Barat H. Tukijo, S.Ag., M.Sy., berharap pengalaman yang diperoleh dari PCM Minggir dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan gerakan Muhammadiyah di Metro Barat.
Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah tidak semata-mata diukur dari jumlah warga Muhammadiyah, tetapi dari sejauh mana keberadaan Muhammadiyah mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Dari PCM Minggir kami belajar bahwa meskipun berada di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muhammadiyah, gerakan tetap bisa berkembang ketika kita hadir dengan pelayanan sosial, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Ini menjadi inspirasi bagi kami untuk terus melakukan pembenahan,” ujarnya.
Kegiatan study tiru kemudian dilanjutkan dengan dialog dan diskusi bersama jajaran PCM Minggir dan PRM se-PCM Minggir. Berbagai pengalaman mengenai tata kelola organisasi, pengembangan ranting, amal usaha, dakwah, pemberdayaan masyarakat, hingga strategi membangun kemandirian ekonomi menjadi bahan pembelajaran bagi rombongan PCM Metro Barat.
Adapun rangkaian agenda Studi Tiru PCM Metro Barat meliputi: studi banding di PCM Minggir Sleman dan PCM Prambanan DIY, kemudian menghadiri penyerahan mahasiswa kedokteran di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Dilanjutkan studi tiru ke PRM Gunung Pring Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kemudian rombangan singgah untuk ibadah di Masjid Al-Jabbar Bandung. Terkhir kunjungan dijadwalkan ke Masjid Sejuta Pemuda Sukabumi dan kunjungan terakhir di PCM Cileungsi Bogor, Jawa Barat.(Mas Triez)

