METRO — Suasana penuh semangat di aula SMA Muhammadiyah 2 Metro pada Senin, 13 Juli 2026. Para siswa baru yang tengah mengikuti Forum Ta’aruf Siswa (FORTASI) mendapatkan suntikan motivasi melalui materi pengenalan organisasi yang dibawakan oleh Bendahara Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Provinsi Lampung, Siti Khomsatun.
Kehadiran tokoh muda inspiratif yang akrab disapa Kokom ini menjadi magnet tersendiri bagi para peserta didik baru. Membawa materi yang bersumber dari presentasi KE-IPM-AN, Kokom berhasil menyajikan materi sejarah dan esensi organisasi secara interaktif, menyenangkan, dan jauh dari kesan kaku.
Sebelum memasuki materi inti, mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) asal Margatiga, Lampung Timur ini terlebih dahulu mencairkan ketegangan para siswa baru. Melalui permainan ice breaking unik bertajuk “4 SS” (Sekat, Sikut, Sakit, Sikat), aula sekolah seketika dipenuhi gelak tawa dan antusiasme tinggi dari para siswa yang saling berinteraksi secara aktif.
“Dalam berorganisasi dan belajar, konsentrasi serta kebersamaan adalah kunci utama. Lewat ice breaking ini, kita ingin melatih kepekaan dan fokus adik-adik semua sejak hari pertama,” ujar Kokom sembari tersenyum di hadapan para peserta.
Dalam pemaparannya, kader tangguh yang telah menuntaskan jenjang pengkaderan hingga Taruna Melati 3 (PKMTM 3) tingkat wilayah ini mengupas tuntas apa itu IPM. Ia menekankan bahwa IPM merupakan Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah yang bergerak sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di kalangan pelajar, berakidah Islam, dan bersumber pada Al-Qur’an serta As-Sunnah.

Kokom juga mengajak para siswa melakukan kilas balik ke tanggal 18 Juli 1961 M (5 Shafar 1381 H), momen bersejarah saat IPM pertama kali didirikan di Yogyakarta di bawah kepemimpinan Herman Helmi Farid Ma’ruf dan Muhammad Wirsyam Hasan. Ia mengisahkan perjalanan dinamis organisasi, termasuk masa transisi perubahan nama menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) pada tahun 1992, hingga kembali ke nama khittah-nya sebagai IPM pada Muktamar XVI di Solo tahun 2008.
“Semboyan kita, Nun, Walqolami Wama Yasthurun—Demi pena dan apa yang dituliskannya (QS. Al-Qalam: 1)—adalah simbol perjuangan kaum intelektual. Sebagai pelajar Muhammadiyah, kita dituntut untuk unggul dalam ilmu keagamaan, keilmuan, kemasyarakatan, dan kekaderan,” tegasnya.
Selain membedah makna filosofis di balik logo IPM yang berbentuk menyerupai pena dengan bulatan matahari di tengahnya, Kokom juga menjelaskan struktur organisasi berjenjang mulai dari tingkat sekolah (Pimpinan Ranting) hingga nasional (Pimpinan Pusat), serta 12 bidang gerakan kreatif yang ada di dalam tubuh IPM.
Menutup sesi penyampaian materi yang sangat inspiratif tersebut, Bendahara Umum PW IPM Lampung ini meninggalkan sebuah pesan hangat yang membekas di hati seluruh peserta.
“Adik-adik sekalian akan memulai petualangan baru yang luar biasa di SMA Muhammadiyah 2 Metro ini. Jadilah pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah perjuangan.” pungkasnya. (DS)

