METRO – Suasana di dalam Aula Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro mendadak hening pada Jumat pagi ini (10/7/2026). Di tengah – tengah para peserta, Bapak Junaidi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menghentikan sesaat presentasinya. Pandangan sang psikolog tertuju pada barisan peserta, tepat pada seorang perempuan yang sedari tadi mengacungkan jari, ketika pemateri menanyakan guru yang memiliki segala hambatan pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
“Ini sudah ketiga kalinya Anda angkat tangan loh. Luar biasa sekali GPK ini, mendampingi dan menangani anak yang memiliki hambatan multikompleks,” ujar pria yang akrab disapa Pak Jun tersebut. Seketika, tepuk tangan apresiasi membahana di dalam ruangan.
Perempuan yang mencuri perhatian itu adalah Elza Elviana. Hari ini, di hari keempat In House Training (IHT) yang digelar oleh SD Sang Pencerah Metro, Elza tah hanya jadi peserta yang duduk menggugurkan kewajiban. Ia adalah potret hidup dari denyut nadi pendidikan inklusi yang sedang diperjuangkan sekolahnya.

Di Kota Metro, sekolah dengan label “inklusi” memang banyak. Namun, Junaidi mengingatkan sebuah tamparan realitas yang terjadi di lapangan. Banyak sekolah yang mengaku inklusi, tetapi sistem pendukungnya belum matang. Tantangan zaman pun telah berubah. Jika dulu keterbatasan anak sering kali hanya dilihat dari fisik, kini ragam hambatan psikologis dan belajar jauh lebih kompleks, mulai dari ADHD, Tuna Grahita, Autism Spectrum Disorder (ASD), hingga disleksia (kesulitan membaca) dan disgrafia (kesulitan menulis).
“Pendidikan inklusi bukan sekadar memaksa ABK ikut dalam pendidikan reguler. Tapi juga harus menuntut kurikulum dan sekolah yang beradaptasi dengan kebutuhan individu anak yang beragam, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Junaidi juga meluruskan satu miskonsepsi besar yang sering terjadi. Bagi ABK, terapi harus didahulukan daripada sekolah. Terapi adalah fondasi utama untuk membangun kesiapan psikologis dan motorik anak. Untuk mewujudkan hal itu, tiga pilar utama inklusi harus ditegakkan lewat kolaborasi guru, orang tua, dan ahli. Kemudian adanya akses yang setara bagi setiap anak, membangun empati di lingkungan sekolah dan mencegah isolasi sosial pada anak. (Aan)

