METRO – Riuh rendah suara di Aula Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro mendadak berubah menjadi isak yang tertahan. Hari itu, Ahad (10/5/2026), bukan sekadar seremoni formal biasa. Ada aroma perpisahan yang menyesakkan dada saat sembilan anak purna asuh bersiap melangkah keluar dari gerbang tempat yang selama bertahun-tahun mereka sebut sebagai “rumah”.
Di kursi undangan, dalam momentum penuh haru itu, turut dihadirkan pula para purna bakti kepala panti dari masa ke masa, mulai dari H.M.Daud Siddiq, BA hingga H. Muzakir yang merupakan kepala panti sebelum H.Ismail.
Lebih dari Sekadar Atap dan Dinding
Bagi H. Ismail, Kepala Panti Asuhan Budi Utomo, sembilan anak ini bukanlah angka dalam laporan administrasi. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia memandang satu per satu wajah anak asuhnya.
“Kami tidak pernah menganggap mereka sekadar anak asuh. Mereka sudah seperti anak kami sendiri,” bisiknya lirih.
Baginya, panti ini adalah saksi bisu tumbuh kembang mereka; tempat mereka belajar mengeja masa depan, tertawa dalam kesederhanaan, hingga saling menguatkan di masa-masa sulit. Tangisan yang pecah di aula siang itu menjadi bukti sahih bahwa panti ini tidak hanya memberikan tempat tinggal, melainkan sebuah keluarga yang utuh.

Menjaga Api Perjuangan
Namun, perpisahan ini adalah sebuah keharusan. Mereka dilepas untuk sebuah pengabdian yang lebih besar: menjadi cahaya di tengah masyarakat.
Ketua PCM Metro Barat, Hi. Tukijo, M.Sy., mengingatkan bahwa “bekal” yang mereka bawa dari panti jangan sampai padam. Ia menekankan pentingnya para alumni untuk tetap berdenyut dalam nadi Muhammadiyah, baik melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bagi yang kuliah, maupun Nasyiatul Aisyiyah.
“Jangan lupa dengan rumah yang membesarkan kalian. Kami akan terus memantau, memastikan kalian tetap menjadi bagian dari persyarikatan,” ujarnya sembari tersenyum, mencoba mencairkan suasana yang sendu.
Senjata Iman di Dunia yang “Tidak Baik-Baik Saja”
Pesan mendalam juga datang dari H. Kasimun, perwakilan PDM Kota Metro. Sebagai salah satu panti tertua dan terbesar di Lampung, Budi Utomo memiliki standar tinggi dalam mencetak kader. Ia mengingatkan bahwa dunia luar hari ini sedang menghadapi krisis adab dan banjir informasi yang bisa menyesatkan.
“Bawalah dua senjata ampuh dari panti ini: iman dan ilmu,” tegasnya. Ia berpesan agar para lulusan tidak terjebak dalam mental instan dan tetap menjaga salat sebagai jangkar kehidupan.
Pintu yang Selalu Terbuka
Momen paling menyentuh terjadi saat sesi bersalaman. Tangis benar-benar pecah. Pelukan hangat antara pengasuh dan santri seolah ingin menahan waktu sedikit lebih lama. Genggaman tangan mereka begitu erat, seakan enggan melepas kenyamanan “rumah” yang telah memberikan cinta tanpa syarat.
Meski langkah kaki harus menjauh, satu janji terucap dari para pengurus: pintu panti tidak akan pernah terkunci bagi mereka.
“Jika suatu saat kalian mengalami kesulitan, pintu panti akan selalu terbuka. Jangan pernah lupa untuk kembali,” tutup H. Kasimun, mengakhiri prosesi pelepasan yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang hadir.
Sembilan anak itu kini melangkah pergi. Mereka membawa ransel berisi pakaian, namun di dalam dada, mereka membawa bekal karakter dan cinta yang akan mereka tebarkan di mana pun mereka berpijak. (ims)

