Senin, Juni 29, 2026
BerandaAUMKader Qori MTs Muhammadiyah Tuai Pujian

Kader Qori MTs Muhammadiyah Tuai Pujian

Metro – Siang itu, suasana Masjid terasa berbeda. Lantunan ayat suci menggema lembut, menyatu dengan semangat para siswa MTs Muhammadiyah Metro yang tengah mengikuti Ramadan Camp. Di antara barisan pelajar berseragam rapi itu, hadir seorang tamu istimewa dari tanah para nabi, Malik Al Hamid, sebagai pemateri, pada Kamis,26/2/2026.

Syaikh Malik Al Hamid, dengan wajah teduh dan suara khas Timur Tengah, ia membuka sesi motivasi dan tilawah Al-Qur’an. Namun ia tidak hanya berceramah. Ia mengajak para siswa berdialog dengan Al-Qur’an, melalui kuis kandungan ayat dan sambung ayat.

Satu per satu tangan terangkat. Antusiasme terasa hidup, tetapi tetap dalam bingkai adab dan ketertiban, mencerminkan kultur pendidikan Muhammadiyah yang memadukan iman, ilmu, dan akhlak.

Ketika Syaikh membacakan potongan ayat dari Surah Al-Insan ayat 9–11, suasana mendadak hening.

“Siapa yang bisa melanjutkan?” tanyanya.

Seorang siswa kelas 7 Tahfidz, Umair Tsaqif Al Barra, berdiri dengan tenang. Ia telah menghafal 15 juz Al-Qur’an. Tanpa ragu, ia menyambung ayat tersebut. Suaranya mengalir tartil, tajwidnya terjaga, makhraj hurufnya jelas. Bukan sekadar hafal, tetapi hidup dalam bacaan.

Syaikh Malik Al Hamid tampak terdiam beberapa saat. Matanya berbinar.

“Mashaallah, mumtaz, mumtaz,” ucapnya

Berulang kali, penuh haru. Ia memuji bukan hanya kelancaran hafalan Umair, tetapi juga kualitas bacaan yang matang.

Di hadapan seluruh peserta, Syaikh kemudian melepas syal Palestina yang dikenakannya dan mengalungkannya ke pundak Umair. Tepuk tangan bergema. Momen itu bukan sekadar simbol penghargaan, tetapi tanda ukhuwah lintas negeri, Palestina dan Indonesia disatukan oleh Al-Qur’an.

Kisah mengharukan itu bukan satu-satunya, Serli Aulia, siswi kelas 8 Tahfidz yang telah menuntaskan 30 juz, tampil percaya diri menjawab tantangan ayat berikutnya.

Hafalannya kuat, penyampaiannya mantap dari Qori MTs Muhammadiyah Metro yakni, Azzam Nabil dari kelas 7 Tahfidz dan Danis dari kelas 9 ICT pun tak kalah menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Di sudut ruangan, Kepala MTs Muhammadiyah Metro, Eko Sumanto, menyaksikan momen itu dengan wajah penuh syukur. Ia menilai kehadiran Syaikh dari Palestina menjadi suntikan motivasi luar biasa bagi para siswa.

“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial Ramadhan. Ini adalah proses menanamkan cinta Al-Qur’an dalam jiwa anak-anak kita, kami ingin mereka bukan hanya hafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa pembinaan tahfidz di MTs Muhammadiyah Metro dirancang secara terstruktur dan berkelanjutan. Menurutnya, generasi Qur’ani adalah investasi jangka panjang umat dan bangsa.

Menurutnya, Ramadan Camp hari itu terasa bukan seperti perlombaan, melainkan perayaan cinta terhadap Al-Qur’an. Para guru memandang dengan bangga, menyaksikan buah dari pembinaan yang dijalankan secara konsisten.

Kehadiran Syaikh dari Palestina menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an adalah bahasa persatuan umat. Dari Gaza hingga Metro, dari Timur Tengah hingga Nusantara, generasi muda yang menghafal dan mengamalkan Kalamullah adalah harapan masa depan.

Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, MTs Muhammadiyah Metro membuktikan bahwa madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang kaderisasi peradaban. Di sanalah suara-suara tartil itu disemai, menjadi cahaya yang kelak menerangi umat dan bangsa. (Guswir)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini