Sumber: H.Bekti Satriadi
Editor: Guswir.
Kali ini, rubrik Muhammadiyah Metro akan mengangkat kisah seorang tokoh inspiratif yang lahir dan dibentuk dari rahim Muhammadiyah, bekerja untuk Persyarikatan tanpa pamrih. Jejaknya tergambar jelas dalam perjalanan Bekti Satriadi.
Ia adalah kader yang menapaki jalan pengkaderan di IMM, matang dalam medan kebencanaan, dan kini mengemban amanah strategis di filantropi umat.
Kita ketahui bersama, dalam tradisi Muhammadiyah, kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses panjang kaderisasi, ditempa amanah, dan diuji dalam kerja nyata. Tidak ada jalan pintas, hanya pengabdian yang konsisten dan kerja tulus ikhlas yang akan membentuk karakter diri seorang kader Muhammadiyah.
Dengan nada lembut ia mengatakan kepada jurnalis MPI PDM Kota Metro bahwa,
“Kader tidak hanya diajari untuk piawai berbicara, tetapi tangguh bekerja; tidak sekadar memahami struktur, tetapi menghidupi kultur ikhlas beramal.”
Awal Karier di IMM dan Pengkaderan Muhammadiyah
Bekti memulai pengabdian Muhammadiyah pada tahun 2000, ketika ia didaulat menjadi Ketua PC IMM Tanggamus. Dunia IMM menjadi laboratorium awal yang membentuk karakter kepemimpinannya, mengasah disiplin organisasi, militansi dakwah, dan kepekaan sosial.
Di sinilah ia belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi atau gelar, tetapi tanggung jawab untuk menata kader, membimbing teman sebaya, dan menegakkan nilai persyarikatan dalam setiap tindakan.
Setiap rapat, setiap program, dan setiap kegiatan menjadi ruang pendidikan karakter yang menyiapkan kader untuk menghadapi dinamika Persyarikatan lebih luas.
Ia menempuh proses Darul Arqam Dasar (DAD), Darul Arqam Madya (DAM), hingga Latihan Instruktur 1 (LI 1), sehingga nilai ideologis Muhammadiyah tertanam kuat.
“Apapun dan di manapun kita berada, teruslah berdakwah walaupun tidak harus di atas mimbar.”
Periode 2002–2006, ia melanjutkan amanah sebagai Ketua Bidang Kajian Islam PDPM Tanggamus, memperluas pengalaman dakwah pemuda sekaligus menguji konsistensi organisasi.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Bekti tidak berjalan sendiri. Ia ditempa bukan hanya oleh sistem kaderisasi, tetapi juga oleh keteladanan para senior yang menghadirkan nilai dalam laku nyata.
Salah satu sosok yang membekas dalam ingatannya adalah Prof. Dr. Agus Sutanto, dosen Universitas Muhammadiyah Metro yang dikenal rendah hati dan bersahaja. Meski telah menyandang gelar doktor, beliau tetap turun ke ranting, mengantar undangan pengajian dari rumah ke rumah. Bagi Bekti, keteladanan itu adalah pelajaran hidup, bahwa ilmu yang tinggi harus membumi, dan jabatan akademik tidak boleh menjauhkan kader dari jamaah.
Sosok lainnya adalah Drs. Sudarso, mentor organisasi yang mengajarkannya pentingnya tertib administrasi, tata kelola surat-menyurat, kepemimpinan rapat, serta manajemen organisasi yang dinamis. Dari beliau, Bekti memahami bahwa kekuatan Persyarikatan tidak hanya terletak pada gagasan besar, tetapi juga pada sistem yang tertata dan dijaga dengan disiplin.
Dari kedua figur tersebut, Bekti memetik satu pelajaran mendasar: kader Muhammadiyah bukan hanya orator di mimbar, melainkan pekerja-pekerja sunyi yang merawat sistem, menghidupkan jamaah, dan memastikan gerak Persyarikatan tetap berdenyut dalam amal nyata.
Hijrahnya ke Kota Metro menjadi titik awal babak baru pengabdian. Di tengah keterbatasan kader kesehatan Muhammadiyah pada awal tahun 2000-an, Bekti terpanggil untuk mengambil bagian. Ia bergabung sebagai anggota Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (MKKM) periode 2005–2010, adalah sebuah ruang pengabdian yang menuntut ketekunan, profesionalitas, sekaligus ruh Al-Ma’un dalam pelayanan.
Baginya, amal usaha kesehatan bukan sekadar institusi pelayanan medis, melainkan manifestasi dakwah kemanusiaan yang berlandaskan tauhid dan keberpihakan kepada umat.
Kepercayaan itu kian menguat ketika pada tahun 2007 ia didaulat sebagai Koordinator Fasilitator Nasional Tim Penanggulangan Flu Burung (TPFB) Muhammadiyah regional Lampung.
Amanah tersebut bukan hanya tanggung jawab teknis, tetapi juga panggilan moral untuk menghadirkan Muhammadiyah di tengah situasi krisis kesehatan masyarakat.
Di sinilah Bekti belajar bahwa dakwah berkemajuan tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam respons cepat, kerja kolektif, dan pelayanan nyata bagi kemaslahatan umat.
Pada periode yang sama, ia turut membantu pendirian RSU Muhammadiyah Metro, kala itu ia menceritakan sempat menjadi tukang ketik, mengantar surat, mengangkat logistik, dan kadang menjadi driver.
Pengabdian ini berlanjut hingga 2024 sebagai bagian dari Badan Pembina Harian (BPH) rumah sakit. Baginya, amal usaha bukan sekadar institusi, tetapi medan dakwah yang menuntut profesionalitas sekaligus keikhlasan.
Menjelang akhir 2018, Bekti mengikuti pelatihan fasilitator nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wilayah Lampung di Bengkulu. Pelatihan itu menjadi fase penting dalam memperluas cakrawala pengabdiannya di bidang kemanusiaan.
Namun takdir Allah mempercepat proses pembelajaran itu. Dalam perjalanan pulang, tsunami menerjang pesisir Kalianda, Lampung Selatan. Situasi darurat tersebut menjadi momentum pertama ia terjun langsung dalam respons kebencanaan berskala besar.
Sebagai kader kebencanaan yang baru ditempa, ia mendapat amanah dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk ikut mengawal respons bencana.
Di tengah keterbatasan dan suasana darurat, ia menyaksikan bagaimana Muhammadiyah bergerak cepat, terorganisir, dan berbasis sistem, untuk menghadirkan dakwah kemanusiaan secara nyata.
Dari pengalaman tanggap darurat itulah lahir kesadaran kolektif akan pentingnya penguatan struktur kebencanaan di tingkat daerah.
Maka pada April 2019, MDMC Kota Metro resmi berdiri. Bekti dilibatkan sebagai Wakil Ketua sekaligus fasilitator pembentukan, meneguhkan komitmennya bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya hadir dalam pengajian, tetapi juga di garis depan saat umat membutuhkan pertolongan.
Tak lama berselang, ujian kemanusiaan kembali datang. Pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan mengguncang seluruh sendi kehidupan.
Dalam situasi penuh ketidakpastian itu, Muhammadiyah bergerak cepat dengan membentuk Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) sebagai pusat komando penanganan pandemi secara terstruktur dan terkoordinasi.
Di tingkat daerah, Bekti dipercaya memimpin MCCC Kota Metro periode 2019–2022. merupakan amanah yang bukan sekadar jabatan organisatoris, melainkan tanggung jawab moral untuk memastikan Muhammadiyah hadir di tengah umat. Ia memberikan edukasi, penguatan layanan kesehatan, distribusi bantuan sosial, hingga pendampingan masyarakat terdampak.
Di masa krisis itu, ia merasakan betul makna kepemimpinan kolektif-kolegial yang menjadi ciri Persyarikatan. Sinergi antara amal usaha kesehatan, relawan, majelis, dan ortom menjadi kekuatan utama.
Pandemi mengajarkan bahwa dakwah bukan hanya seruan, tetapi keberanian mengambil peran, bekerja dalam sistem, dan menghadirkan solusi nyata bagi kemaslahatan umat.
“Saya belajar bahwa kepemimpinan kolektif adalah kunci. Tidak ada kerja besar yang bisa selesai sendirian.”
Setelah menorehkan kiprah dalam bidang kesehatan dan kebencanaan, amanah baru kembali menghampiri. Bekti diminta untuk mengemban tanggung jawab sebagai Ketua LazisMu Kota Metro.
Pada awalnya, ia tidak serta-merta menerima. Dengan penuh kesadaran diri, ia merasa latar belakangnya lebih banyak ditempa di ranah kesehatan, pendidikan, dan kebencanaan.
Dunia filantropi, menurutnya, memiliki karakter dan tantangan tersendiri yang membutuhkan kesiapan manajerial dan pemahaman mendalam tentang tata kelola zakat, infak, dan sedekah.
Namun dalam tradisi Muhammadiyah, amanah bukanlah pilihan personal semata, melainkan bagian dari kepercayaan jamaah. Ia pun merenungkan bahwa kader sejati adalah mereka yang siap ditempatkan di mana saja, selama itu untuk kemaslahatan umat.
Akhirnya, dengan niat ikhlas dan semangat belajar dari awal, ia menerima amanah tersebut. Baginya, filantropi Muhammadiyah bukan sekadar mengelola dana, tetapi menjaga kepercayaan umat dan menghadirkan spirit Al-Ma’un dalam tata kelola yang profesional, transparan, dan Akuntabilitas..
Namun sebagai kader, ia menerima amanah dengan prinsip,
“Sebagai kader Muhammadiyah, di manapun ditempatkan harus siap.”
Berangkat dari pengalaman sangat minim, namun dengan kegigihan yang tidak pernah berhenti untuk terus belajar, dari para terdahulu, serta ikhlas dalam menerima amanah persyarikatan, untuk menakhodai LazisMu Daerah Kota Metro.
Bahkan kini, ia mengelola dana ZIS hingga miliaran rupiah. Tahun 2025, penghimpunan meningkat hampir 60% dibanding tahun sebelumnya. Lebih dari itu, LazisMu Kota Metro berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) lima kali berturut-turut, menegaskan tata kelola akuntabel dan transparan.
Bekti menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar angka,
“Kepercayaan publik adalah jantung lembaga amil zakat. Tanpa trust, lembaga tidak akan bertahan. Transparansi, tertib administrasi, dan kolaborasi menjadi prinsip utama kami.”
Tantangan ke depan bukan hanya menghimpun dana, tetapi menyalurkannya secara adil, merata, kolaboratif, dan sesuai syariat. Kemitraan dengan pemerintah, OPD, majelis, ortom, dan komunitas terus diperkuat sebagai ekosistem gerakan.
Spirit Al-Ma’un, merupakan dakwah tanpa sorotan, bahwa seluruh perjalanan Bekti Satriadi berpijak pada nilai Al-Ma’un yang di Muhammadiyah diterjemahkan dalam gerakan PKO dan filantropi modern.
Dari IMM, kebencanaan, hingga LazisMu, semua mengajarkan satu pesan: memberi manfaat adalah inti dakwah.
“Pengabdian bukan soal posisi, tetapi kesiapan memberi manfaat. Selama hayat dikandung badan, dakwah harus terus berjalan, meski tanpa mimbar dan tanpa sorotan.”
Jejak pengabdian Bekti menegaskan bahwa kaderisasi dalam tradisi Muhammadiyah bukanlah sekadar proses administratif atau jenjang struktural semata.
Ia adalah perjalanan ideologis yang menanamkan nilai tauhid, melatih ketangguhan dalam menghadapi ujian, menumbuhkan kerendahan hati dalam setiap amanah, serta meneguhkan komitmen kemanusiaan sebagai orientasi gerakan.
Kaderisasi adalah investasi peradaban. Ia tidak berhenti pada pencapaian personal, tetapi bergerak dalam denyut amal usaha, dakwah yang mencerahkan, dan filantropi yang memberdayakan umat.
Dari ruang-ruang pengkaderan hingga medan pengabdian, dari kerja sunyi hingga tanggung jawab strategis, semuanya berpulang pada satu tujuan: menghadirkan Islam berkemajuan dalam kehidupan nyata. denyut amal, dakwah, dan filantropi umat.

