METRO-Dalam semangat tajdid dan gerakan dakwah berkemajuan, sebanyak 70 santri Pondok Pesantren Muhammadiyah (PontrenMu) At-Tanwir Metro, dilepas untuk mengemban amanah Mubalig Hijrah Ramadhan 1447 H. Mereka akan menyemai cahaya Al-Qur’an, menguatkan syiar, serta menghidupkan ruh ibadah di 17 Cabang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Lampung dan Sumatera Selatan, yang berlangsung di halaman PontrenMu At Tanwir kampus 1 pada Senin, 16/2/2026.
Hal ini disampaikan Direktur PontrenMu At-Tanwir Metro, Dr. H. Sujino, menyampaikan bahwa, program Mubalig Hijrah bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari ruh pendidikan kader di At-Tanwir.
“Kami ingin santri tidak hanya kuat secara akademik dan hafalan, tetapi juga matang secara sosial dan dakwah. Mubalig Hijrah adalah laboratorium nyata bagi santri untuk belajar memimpin, berkomunikasi, dan menghadirkan solusi di tengah masyarakat.” harapnya.
Beliau menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melatih keikhlasan, ketangguhan, dan kedewasaan berpikir.
“Santri At-Tanwir harus menjadi wajah Islam yang ramah, berkemajuan, dan memberi harapan. Di mana pun mereka ditempatkan, mereka adalah representasi pesantren dan Muhammadiyah.” kata Ust Sujino.

Dr. Sujino juga menyampikan bahwa, program yang berlangsung sejak 29 Sya’ban – 16 Ramadhan 1447 H (17 Februari – 05 Maret 2026) ini menjadi bagian dari proses kaderisasi mubalig muda Muhammadiyah yang siap hadir di tengah umat.
Ia menambahkan bahwa, para santri akan mengisi berbagai kegiatan seperti imam dan khatib shalat, kultum dan kajian Ramadhan, pendampingan TPA/TPQ, pembinaan remaja masjid, hingga kegiatan sosial keagamaan lainnya.
Kegiatan yang dilepaskan oleh Pleno Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, H. Kasimun, mewakili Ketua PDM Kota Metro, H. Kustono, menegaskan pentingnya menjaga integritas selama bertugas.
“Jaga kesehatan dan nama baik At-Tanwir. Jadilah Duta Mubalig yang mencerahkan dan memberdayakan.” Katanya kepada Jurnalis MPI PDM Kota Metro.
Ia juga menekankan makna mubalig sebagai Fatihun (membuka yang tertutup) dan Musahilun (memberikan kemudahan atas kesulitan), serta menjelaskan filosofi jasket merah marun sebagai simbol kekuatan, kepercayaan diri, kedewasaan, dan kemuliaan akhlak.
H. Kasimun menambahkan bahwa, atas nama PDM Kota Metro, ia menyampaikan apresiasi kepada pimpinan pesantren atas konsistensi program yang tersebar di berbagai PCM yang berada di Lampung dan Sumatera Selatan. (Guswir)

