Istilah retret belakang ini cukup populer, setidaknya sejak pemerintah di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto melaksanakan program Retret ini bagi para kepala daerah yang baru saja dilantik. Kepala daerah itu baik bagi Gubernur maupun bagi Bupati dan Walikota. Mereka harus mengikuti kegiatan ini di Lembah Tidar Akademi Militer Magelang.
Tulisan ini menggunakan istilah retret bukan untuk sekedar mengikuti tren, tetapi untuk mendekatkan dan menggugah kembali memori kita tentang pengkaderan di lingkungan Muhammadiyah. Jika belakangan pemerintah melakukan Retret bagi para kepala daerah, sesungguhnya di Muhammadiyah kegiatan seperti ini sudah berjalan cukup lama dan menjadi bagian dari proses pendidikan dan perkaderan. Namanya Darul Arqam dan atau Baitul Arqam.
Menurut Meta, salah satu kecerdasan buatan AI, mengartikan Retret sebagai kegiatan sementara waktu menjauhkan diri dari rutinitas harian, baik secara individu maupun berkelompok, untuk tujuan
refleksi diri, spiritual, atau pemulihan. Kata “retret” berasal dari bahasa Latin “re-trahere” yang berarti “menarik kembali” atau “menyeret ke belakang”. Secara umum, retret memberikan kesempatan untuk beristirahat, merenung, berdoa, bermeditasi, dan meningkatkan keimanan.
Sedikit banyak kegiatan Darul Arqam hampir mirip-mirip dengan kegiatan Retret. Bahkan lebih mendalam lagi karena Darul Arqam berisi penguatan ideologis, strategi pengembangan organisasi, penguatan spiritualitas, pembentukan Akhlakul Karimah, dan tidak kalah pentingnya memperdalam ilmu pengetahuan. Sementara Retret lebih banyak penyamaan persepsi dan penguatan sinergi antara pimpinan secara vertikal untuk mencapai tujuan dan visi pemerintahan dan penguatan ideologi kebangsaan.
Dalam beberapa bulan ini Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung menyelenggarakan kegiatan Darul Arqam bagi Pimpinan Daerah dan diharapkan tindak lanjutnya bisa terselenggara juga pada tingkat pimpinan daerah dengan pesertanya para pimpinan cabang dan unsur pembantu pimpinan.
Seperti halnya kegiatan Retret, para pimpinan Muhammadiyah ini dikarantina selama empat hari untuk mengikuti kegiatan Darul Arqam. Jangan dibayangkan fasilitasnya seperti Retret pemerintah, seperti biasanya di Muhammadiyah, semuanya serba sederhana. Peserta tidur dan menginap di ruang kelas dengan alas karpet dan kasur tipis. Konsumsi berupa nasi kotak dengan menu ala kadarnya. Tapi dengan segala kesederhanaannya semua terasa nikmat karena di dalamnya ada ruhul ikhlas yang tertanam pada setiap dada peserta. Pimpinan daerah dan cabang yang sebagian besar usianya sudah sepuh juga harus mengikuti kegiatan Darul Arqam.
Padahal dalam kesehariannya, para pimpinan itu sebagian terbiasa dengan kehidupan yang nyaman. Sebagian peserta mungkin saja sudah pernah berkali-kali mengikuti kegiatan yang serupa, atau pernah menjadi narasumber, namun sekarang harus duduk sebagai peserta dan diatur-atur. Semuanya tidak ada masalah, karena di Muhammadiyah hal seperti itu biasa. Suatu saat mengajar di saat lain belajar. Suatu saat jadi pimpinan yang mengatur di saat lain menjadi anggota yang siap diatur.
Sebagaimana kata ketua PWM dalam acara penutupan Darul Arqam, materi dalam darul Arqam sesungguhnya tidak ada hal yang baru. Hampir semuanya sudah pernah dipelajari oleh para pimpinan. Namun, Darul Arqam ini menggugah kembali, merecharge, membangkitkan kembali semangat dalam bermuhammadiyah. Apa yang dibiasakan selama darul Arqam supaya nanti menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika selama Darul Arqam kita harus bangun jam 3 malam untuk shalat malam, jam 03.30 harus mengikuti Fathul Qulub serta shalat subuh berjamaah. Itu semata-mata supaya pimpinan Muhammadiyah itu terbiasa dengan shalat malam dan shalat jama’ah, meningkatkan ketawadhuan dan pembiasaan Akhlakul karimah.
Darul Arqam dan atau Baitul Arqam bagi Pimpinan Muhammadiyah adalah usaha untuk merefresh kembali pendalaman ideologi dan penguatan serta ghirah dalam bermuhammadiyah. Disamping itu juga sarana untuk kontemplasi (muhasabah) dalam rangka memperkuat spiritualitas. Tujuan akhirnya supaya kita bisa terus menumbuhkan keikhlasan dan semata-mata bermuhammadiyah itu untuk menggapai Ridha Allah SWT.

