By. Agus Wirdono,M.Si
Siapa yang tidak terkejut ketika susah payah mengumpulkan harta dengan merogoh kocek berkisar 300jt – 900 jt, yang diyakini sebagai kunci menuju segala tanah haram, dengan jalur khusus Haji Furoda / Nonkuota, tahun ini 2025, gerbang tersebut tak bisa ditembus dengan visa langit atau tiket emas, karpet merah tak muncul, untuk menunaikan ibadah haji dengan jalur khusus yakni haji Furoda, ditolak halus oleh Kerajaan Arab Saudi belum juga menerbitkan visa furoda tanpa memberikan alasan resmi, memicu kekhawatiran dan keresahan di kalangan calon jemaah.
Meskipun telah membayar biaya besar, lebih dari 1.000 calon jemaah furoda batal berangkat karena visa tidak kunjung diterbitkan. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan perlindungan hukum bagi jemaah jalur nonkuota, renungan sejenak, apakah kita sedang membangun istana di bumi, atau mempersiapkan pondasi di akhirat? Apakah kita sedang mengejar pengakuan manusia, atau ridha Tuhan?
Tentang penolakan Visa Haji Khusus nn kuota, mengingatkan kita bahwa ada batas tempat segala sesuatu kehilangan nilainya. Di hadapan langit, tak ada jalur khusus. Tak ada jalur cepat. Tak ada pengaruh yang bisa dibeli. “Visa langit” bukan dicetak dengan tinta, tapi dengan amal. Ia tak terbit karena koneksi, tapi karena keikhlasan. Ia tak berlaku karena kemewahan, tapi karena keluhuran niat.
Tanpa disadari bahwa 2025 ternyata, uang tidak bisa membeli panggilan Tuhan.
Visa langit itu tidak dijual di travel mana pun. Tidak bisa dipesan lewat koneksi. Tidak bisa dicetak dari ATM. la hanya terbit kalau Tuhan
sudah mengetuk pintu langit dengan tulus. Dan ketika Tuhan belum berkenan, sebesar apa pun saldo rekening, tetap saja gagal berangkat. Maka tahun ini, kita semua belajar. Bahwa haji bukan soal kaya atau bisa. Tapi soal diizinkan, bahwa Haji dan umroh itu adalah Panggilan.
Manusia seringkali tertipu oleh kilau dunia. Uang dikira bisa membeli segalanya. Harta dikira bisa membuka semua pintu langit. Tapi ada satu panggilan yang tak bisa dibeli, yakni murni panggilan Tuhan.
Ketika Tuhan sudah berkata, untuk Haji / Umroh, dan panggilan itu datang, tak ada batas yang mampu menghalanginya; tidak waktu, tidak jarak, tidak pula kuasa manusia. Jika Allah telah memanggil, segalanya akan tunduk pada kehendak-Nya, kalimat talbiyah jawaban terbaik atas panggilan Tuhan.
Sering kita mengira hidup ini soal mengumpulkan, padahal sejatinya hidup adalah soal mengembalikan. Mengembalikan waktu untuk bersujud. Mengembalikan hati untuk bertobat. Mengembalikan jiwa kepada Pemiliknya dalam keadaan bersih. Tuhan tak pernah menilai tebalnya dompet. Ia menilai lapangnya hati. Ia menilai bersihnya niat. Ia menilai seberapa tulus kita kembali ketika dunia, yang banyak membuat manusia buta.
Jangan tunggu kaya untuk mendaftar haji atau umrah. Jangan tunggu mapan. Jangan tunggu tua. Karena panggilan itu bukan datang pada mereka yang paling siap secara dunia, tapi pada mereka yang paling siap untuk taat. Hal ini membuktikan bahwa uang tak bisa membeli waktu, dan harta tak bisa menembus panggilan Tuhan, bisa jadi, kesabaran dalam menunggu antrian haji/umroh adalah ujian atas kesabaran menuju baitullah.
Banyak yang menunggu hingga sempurna segalanya—uang, waktu, kondisi—namun panggilan itu tak kunjung datang, dan ada pula yang mendaftar dengan bekal pas-pasan, bisa berangkat, ada yang bayar mahal, kodarullah batal, maka jika hatimu tergerak hari ini, jangan tunda. Boleh jadi itu adalah panggilan langit yang tak datang dua kali.

