Minggu, Januari 4, 2026
BerandaBeritaPayungi dan Lazismu Metro Siapkan Penggerak Ekonomi Komunitas lewat Pelatihan Urban Farming...

Payungi dan Lazismu Metro Siapkan Penggerak Ekonomi Komunitas lewat Pelatihan Urban Farming dan Ruang Kreatif

METRO-Pesantren Wirausaha Payungi Kota Metro kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengkaderan penggerak ekonomi berbasis komunitas melalui Pelatihan Penggerak Ruang Kreatif dan Urban Farming yang digelar bersama Lazismu Kota Metro, kegiatan yang dipusatkan di kawasan Pesantren Wirausaha Payungi dan berlangsung selama dua hari, Sabtu–Ahad, 27–28 Desember 2025.

Founder Pesantren Wirausaha Payungi, Dr. Dharma Setyawan, menegaskan bahwa Payungi tidak hanya menghadirkan ruang belajar teknis, tetapi juga ruang ideologis bagi tumbuhnya ekonomi komunitas yang berkelanjutan.

“Payungi memposisikan diri sebagai ekosistem penggerak. Kami ingin melahirkan pelaku-pelaku perubahan yang memiliki kesadaran ideologis, kepekaan sosial, dan kapasitas teknis untuk menggerakkan ekonomi dari basis komunitas,” ujar Dharma.

Pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar Payungi dalam menyiapkan generasi penggerak baru yang mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan, kreativitas, dan spiritualitas dalam membangun kemandirian masyarakat.

Kolaborasi dengan Lazismu Kota Metro, menurutnya, menjadi penguat penting dalam memperluas dampak dan keberlanjutan gerakan.

Ketua Lazismu Kota Metro, H. Bekti Satriadi, menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai langkah strategis regenerasi penggerak lokal.

“Pelatihan ini adalah upaya konkret melahirkan penggerak-penggerak baru yang peduli pada kemandirian ekonomi dan kelestarian lingkungan. Payungi menjadi ruang yang tepat untuk menyemai gagasan tersebut,” ungkap Bekti.

Pada aspek penguatan pangan, akademisi Universitas Muhammadiyah Metro, Dr. Agus Sutanto, mengisi materi Teknologi Urban Farming. Ia memperkenalkan pemanfaatan Pumakkal, pupuk organik cair, sebagai solusi pertanian ramah lingkungan di lahan terbatas.

“Urban farming harus dimulai dari rumah tangga. Kuncinya adalah mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat,” jelas Agus, seraya menegaskan kesiapan timnya untuk berkolaborasi dengan komunitas-komunitas di bawah jejaring Payungi.

Sementara itu, penguatan kreativitas disampaikan oleh Baskoro Wicaksono dari Ruang Keramik. Ia menekankan pentingnya ruang eksperimen sebagai medium pengembangan seni dan kriya berbasis nilai.

“Studio keramik adalah ruang belajar kolektif. Dari ruang seperti ini lahir karya-karya yang orisinil dan berakar pada nilai yang diyakini bersama,” ujarnya.

Materi estetika ruang publik ramah edukasi diperdalam oleh Melpa, yang menyoroti pentingnya desain ruang sebagai sarana pembelajaran sosial, yang menjadi ciri khas Payungi, pelatihan ini tidak hanya menitikberatkan pada penguatan hard skill.

Pada Sabtu malam, peserta mengikuti sesi kontemplatif bertajuk “Sungai Kehidupan” untuk membangun ketahanan mental dan refleksi diri. Hari kedua diawali dengan sholat tahajud dan muhasabah sebagai penguatan fondasi spiritual dalam berwirausaha, dan kegiatan ditutup pada Ahad sore dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Pantauan media menunjukkan para peserta berkomitmen mengimplementasikan hasil pelatihan, mulai dari pengelolaan sampah mandiri, pengembangan taman edukasi, hingga aktivasi ruang kreatif di lingkungan masing-masing.

Menutup wawancara, Founder Payungi Dr Dharma Setiawan, mengatakan bahwa melalui kegiatan ini, Pesantren Wirausaha Payungi menegaskan konsistensinya sebagai ruang pembibitan penggerak ekonomi komunitas yang berakar pada nilai, pengetahuan, dan keberlanjutan. (DS/AW)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini