Selasa, Februari 24, 2026
BerandaAUMPelayanan Prima sebagai Jalan Dakwah

Pelayanan Prima sebagai Jalan Dakwah

Metro – Di tengah dinamika pelayanan kesehatan yang serba cepat, Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Metro meneguhkan kembali satu prinsip mendasar, tentang pelayanan adalah dakwah. Penegasan ini disampaikan oleh Zaenal Abidin, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, sekaligus pemateri tausyiah, , di Masjid As-Syifa RSU Muhammadiyah Metro pada Senin, 23/2/2026.

Hal ini disampaikan Zaenal Abidin selaku pemateri, ia mengajak seluruh Insan Rumah sakit Muhammadiyah Metro, untuk melaksanakan setiap rutinitas bernilai Ibadah.

“Rumah sakit Muhammadiyah bukan sekadar tempat orang berobat. Ia adalah wajah dakwah Persyarikatan. Maka setiap senyum, setiap kata, bahkan setiap tatapan mata kita adalah bagian dari dakwah itu sendiri,” tegas Zaenal Abidin, yang juga sekretaris PDM Kota Metro.

Materi diawali dengan penguatan kesadaran bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Karena itu, budaya saling mengingatkan dalam kesabaran menjadi fondasi penting dalam bekerja.

Ia menjelaskan bahwa, setiap individu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya, termasuk amanah melayani pasien dan tamu.

“Kita ini semua pemimpin. Minimal pemimpin bagi diri sendiri. Dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk bagaimana kita melayani dengan akhlak yang baik,” ujarnya.

Dalam perspektif Islam, pelayanan bukan pekerjaan rutin yang hampa makna. Ia adalah perwujudan nilai ihsan, berbuat sebaik-baiknya karena merasa diawasi Allah SWT.

Lebih lanjut ia menekankan pentingnya bahasa tubuh sebagai cermin akhlak, sehingga, pelayanan prima (excellent service) yang ditekankan bukan hanya soal teknis, melainkan dimulai dari hal mendasar: bahasa tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, senyum, dan ketulusan hati.

Lebih lanjut ia mengutip QS. Al-Mujadalah ayat 11, Allah memerintahkan untuk memberi kelapangan dalam majelis dan berdiri sebagai bentuk penghormatan. Sementara QS. Luqman ayat 18 melarang memalingkan wajah dari manusia dengan sombong.

“Kalau kita berbicara dengan pasien tapi mata kita tidak menatapnya, itu bukan hanya soal etika, tetapi soal adab. Islam mengajarkan kita menghormati manusia dengan sepenuh perhatian,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya senyum tulus.

“Senyum itu ibadah. Minimal tujuh detik kita hadirkan senyum terbaik. Jangan dibuat-buat, tapi lahir dari hati yang ikhlas,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan bahwa, standar operasional, bernilai ibadah, di atasnya ada enam standar pelayanan yang ditekankan:
Pertama berdiri ketika tamu datang (3 meter rule). Kedua, melakukan kontak mata penuh perhatian. Ketiga, memberikan senyum tulus.

Keempat, mengucapkan salam.
Menyampaikan ucapan selamat datang dengan menyebut identitas lembaga. Kelima, menanyakan keperluan dan mengantarkan hingga tujuan.

“Jangan hanya menunjuk arah. Antarkan sampai benar-benar tiba. Pelayanan yang diantarkan dengan hati akan dikenang dan diceritakan,” pesannya.

Ia mencontohkan bagaimana lembaga profesional seperti bank dan hotel menjaga standar pelayanan, dan menurutnya amal usaha Muhammadiyah harus lebih baik lagi karena membawa misi dakwah.

“Kalau lembaga umum saja bisa ramah, masa amal usaha dakwah kalah? Kita ini membawa nama Muhammadiyah,” ujarnya dengan nada reflektif.

Keenam, profesionalisme dan kebersihan hati, bahwa dalam realitasnya, tenaga kesehatan menghadapi kelelahan fisik dan emosional. Namun profesionalisme menuntut agar masalah pribadi tidak dibawa ke ruang pelayanan.

“Boleh kita capek, boleh kita lelah, tapi jangan pernah lelah untuk tersenyum. Masalah di rumah cukup sampai di rumah. Masuk ke tempat kerja, luruskan niat dan mulai dengan doa,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa keluhan pasien dan wali adalah bagian dari dinamika pelayanan.

“Sudah berbuat baik saja kadang masih dinilai kurang, apalagi kalau kita tidak ramah. Maka bersabarlah. Itu bagian dari pahala yang mungkin tidak terlihat,” imbuhnya.

Amal Usaha sebagai Wajah Muhammadiyah

Di akhir penyampaiannya, Zaenal Abidin menegaskan bahwa kerendahan hati adalah kekuatan akhlak.

“Rendah hati bukan berarti rendah martabat. Justru itu menunjukkan kualitas diri kita. Ketika kita memuliakan orang lain, sejatinya kita sedang memuliakan diri sendiri,” tuturnya.

Pelayanan prima, menurutnya, bukan sekadar slogan institusional, tetapi budaya yang harus hidup dalam setiap pribadi karyawan.

“Kalau ingin rumah sakit ini besar dan dipercaya, maka besarkan dulu akhlaknya. Karena yang paling diingat orang bukan hanya obatnya, tapi bagaimana mereka diperlakukan,” pungkasnya.

Pemateri juga mengajak, kepada seluruh pelayanan di RSU Muhammadiyah Metro bukan hanya menghadirkan kesembuhan fisik, tetapi juga menghadirkan ketenangan, kemuliaan, dan nilai Islam berkemajuan dalam praktik nyata kehidupan. (Guswir)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini