Ramadan sebagai Instrumen Pembentukan Karakter
Dalam khutbahnya, Dr. Mukhtar Hadi menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum spiritual tahunan, melainkan instrumen pembentukan karakter yang sistematis. Al-Qur’an menegaskan orientasi puasa:
“la‘allakum tattaqun” (QS. Al-Baqarah: 183), agar kamu bertakwa. Artinya, puasa memiliki tujuan yang jelas, yakni membentuk pribadi bertakwa yang berintegritas.
Ia menekankan, bahwa, “Puasa itu bukan hanya kewajiban tahunan, tetapi sistem pembinaan karakter. Kalau Ramadan berlalu tanpa perubahan perilaku, berarti kita baru menyentuh kulitnya, belum substansinya.”
Dalam perspektif Islam berkemajuan, ibadah tidak berhenti pada kepatuhan normatif, tetapi harus melahirkan transformasi etik dan sosial. Puasa bukan sekadar kewajiban individual, melainkan proses moral engineering yang berdampak pada kualitas kehidupan kolektif.
Dari Legalitas Fikih ke Substansi Moral
Secara fikih, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkan sejak fajar hingga magrib.
Dimensi ini penting sebagai fondasi syariat.
Namun, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan bahwa legalitas tidak selalu identik dengan nilai. Ada orang yang berpuasa tetapi hanya memperoleh lapar dan dahaga.
Dr. Mukhtar Hadi menjelaskan, bahwa, “Ada orang yang puasanya sah secara hukum, tetapi gagal secara moral. Integritas itu tidak lahir dari sekadar menahan lapar, melainkan dari kemampuan mengendalikan lisan, pikiran, dan sikap.”
Karena itu, puasa harus dimaknai sebagai sistem pengendalian diri yang menyeluruh, bukan sekadar aktivitas biologis.
Puasa sebagai Sistem Penguatan Integritas
Dimensi paling mendasar dari puasa adalah self-regulation system. Seseorang tetap tidak makan dan minum meski tidak diawasi manusia. Di situlah fondasi integritas dibangun: kepatuhan karena kesadaran ilahiah, bukan tekanan eksternal.
Menurutnya, bahwa, “Puasa melatih kejujuran paling mendasar. Saat kita sendirian dan tetap tidak membatalkan puasa, di situ kita sedang membangun integritas yang sejati.”
Integritas tersebut harus teraktualisasi dalam kehidupan publik.
“Ramadan itu laboratorium moral. Kalau setelah Ramadan kita masih permisif terhadap korupsi kecil, manipulasi data, atau kebohongan administratif, berarti pelatihannya belum berhasil.”
Nilai kedisiplinan, akuntabilitas, dan kejujuran yang dilatih melalui ibadah harus hadir dalam birokrasi, dunia usaha, pendidikan, hingga pelayanan sosial.
Dimensi Sosial dan Pembangunan Keadaban
Puasa juga membangun empati sosial. Lapar dan dahaga bukan sekadar pengalaman fisik, tetapi mekanisme kesadaran terhadap penderitaan orang lain.
Dr. Mukhtar Hadi menegaskan bahwa, “Puasa yang benar akan melahirkan solidaritas. Tidak mungkin seseorang merasakan lapar sebulan penuh, tetapi tetap abai terhadap fakir miskin.”
Karena itu, zakat, infak, dan sedekah merupakan instrumen distribusi keadilan sosial. Dalam tradisi Muhammadiyah, nilai ini terwujud melalui gerakan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menambahkan, bahwa, “Taqwa itu tidak berhenti di sajadah. Ia harus turun ke jalan, ke sekolah, ke rumah sakit, ke ruang-ruang pengabdian.”
Arsitektur Taqwa sebagai Fondasi Peradaban
Pada akhirnya, puasa adalah desain besar pembentukan takwa. Ia membangun manusia yang sadar diawasi Allah sekaligus bertanggung jawab kepada sesama.
Dr. Mukhtar Hadi menutup refleksinya dengan pesan tegas bahwa, “Kalau Ramadan berhasil membentuk pribadi yang jujur, disiplin, dan peduli, maka kita sedang membangun peradaban. Tetapi jika tidak ada perubahan karakter, maka yang kita jalani hanya rutinitas tahunan.”
Menutup Khutbah Jum’at, beliau merefleksi kembali, mengajak jamaah Jum’at, bahwa Ramadan bukan akhir, melainkan titik awal. Dari sinilah arsitektur takwa dibangun, agar menjadi fondasi integritas umat dan energi bagi terwujudnya masyarakat Islam yang berkemajuan.
Oleh: Dr. Mukhtar Hadi, M.Si.
Editor: Agus Wirdono,M.Si.
(Artikel ini ditulis ulang berdasarkan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Dr. Mukhtar Hadi, M.Si., pada Jumat, 20 Februari 2026, bertempat di Masjid Al Mujahidin Kompleks Muhammadiyah Metro.)

