METRO-Komitmen dakwah kemanusiaan kembali diteguhkan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah. Dalam perjalanan pulang usai menjalankan misi respon banjir bandang di Aceh Tamiang, tiga relawan menyempatkan singgah di Kantor MDMC Daerah Kota Metro, Ahad (22/2/2026).
Kedatangan relawan Jawa Tengah disambut oleh Rifki Wahyu Lara Saputra, Safta Alfarisi, dan Harits Al-Asad, relawan Muhammadiyah Kota Metro. Pertemuan yang berlangsung hangat menjelang sahur itu menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus penguat ukhuwah kebencanaan antar daerah.
Ananda Yoga Saputra, yang akrab disapa Yoga, menjelaskan kepada jurnalis MPI PDM Kota Metro bahwa tim terakhir yang diberangkatkan berjumlah 10 orang.
“Saya dari MDMC Jawa Tengah. Untuk misi terakhir ini, total 10 orang yang berangkat,” ujarnya.
Bagi Yoga, ini bukan kali pertama ia terlibat dalam misi kebencanaan Muhammadiyah. Sebelumnya ia turut ambil bagian dalam respon gempa di Selayar, Sulawesi Selatan, Gempa Cianjur, hingga berbagai misi lainnya.
Pada respon di Aceh Tamiang, Yoga bertugas di bidang Data dan Informasi (Datin), mendokumentasikan serta mengelola laporan seluruh program layanan di posko. MDMC Jawa Tengah bertugas sejak 29 Desember 2025 hingga 19 Februari 2026.
Selama masa tanggap darurat hingga pemulihan, tim tidak hanya menghadirkan bantuan logistik, tetapi juga menginisiasi program pemberdayaan seperti People Kampung Organize sebagai upaya mengembalikan kebiasaan dan kemandirian masyarakat pascabencana. Muhammadiyah juga mendukung kearifan lokal melalui pelaksanaan tradisi meugang dengan penyembelihan 15 ekor sapi di Pos Layanan Kota Lintang.
“Tantangan pasti ada, terutama dalam situasi darurat yang penuh keterbatasan. Namun bagaimana caranya kita tidak menjadikan keterbatasan itu sebagai beban. Kita nikmati prosesnya, karena ini memang panggilan kemanusiaan,” tutur Yoga.
Koordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Aceh Tamiang dan Amal Usaha Muhammadiyah berjalan baik. Bahkan, MDMC Jawa Tengah turut menginisiasi pengaktifan kembali layanan kesehatan di PKU Muhammadiyah Siti Khodijah Aceh Tamiang sebagai bagian dari penguatan layanan pascabencana.
Secara pribadi, Yoga memaknai menjadi relawan sebagai jalan menghadirkan harapan.
“Maknanya sederhana: datang membawa senyuman, pulang menghasilkan senyuman,” ungkapnya.
Dalam kondisi lelah dan penuh risiko, ia dikuatkan oleh kesadaran bahwa manusia saling membutuhkan. Dukungan keluarga serta keluarga besar Muhammadiyah menjadi energi moral dalam setiap langkah pengabdian.
Ia pun menitipkan pesan singkat bagi masyarakat Aceh, “Aceh Beudoh (Aceh Bangkit).”
Kepada generasi muda Muhammadiyah, Yoga menekankan pentingnya mengikuti pelatihan dan diklat kebencanaan agar siap menghadapi medan sesungguhnya.
Ia berharap gerakan kebencanaan Muhammadiyah semakin solid dan berkemajuan, sejalan dengan spirit Al-Ma’un sebagai fondasi gerakan sosial Persyarikatan.
Menutup refleksinya, Yoga merangkum makna kemanusiaan dalam satu kalimat,
“Kemanusiaan adalah ketika kita hadir bukan karena diminta, tetapi karena hati terpanggil; bukan sekadar rasa iba, melainkan keberanian untuk membersamai derita tanpa menghitung balasan.”
(Guswir)

